Bacalah Buku, Semoga Pemahaman Baik Akan Tumbuh

Resensi Buku [Tentang Kamu] : 5 Juz Pelajaran Hidup

Judul                                   : Tentang Kamu

Penulis                              : Tere Liye

Penerbit                             : Republika

Editor                                 : Triana Rahmawati

Tahun Terbit                    :  Oktober , 2016 (Cetakan )

Jumlah Halaman              : vi + 524

Peresensi                          : Siti Nuraini, Alumni  Universitas Negeri Malang

Bertema roman, aksi, intrik, dan kental dengan dunia hukum, novel ke-26 Tere Liye ini memilih setting lokasi Kota London, Paris, Sumbawa, Surakarta, dan Jakarta. Mengisahkan misi berat seorang Zaman Zulkarnaen. Pengacara berkebangsaan Indonesia yang bekerja di London dengan posisi junior associate. Setelah dua tahun magang, akhirnya pemuda brilian itu mendapat kesempatan menangani klien pertamanya. Dalam kasus ini, tugas Zaman adalah menyelesaikan pembagian warisan seorang perempuan berpaspor Inggris.

Dengan jumlah warisan senilai 19 trilliunan Rupiah,  kasus ini menjadi rumit karena tidak ditemukan surat wasiat.  Mirisnya lagi, perempuan dengan kekayaan sebesar itu malah meninggal di sebuah panti jompo dekat Menara Eiffel, Paris. Tak hanya itu, kliennya ternyata seorang perempuan asli Jawa dengan nama Sri Ningsih. Tak heran, pemimpin firma menunjuk Zaman untuk menyelesaikan kasus saudara setanah airnya.

Ketiadaan data tentang keluarga dan masa lalunya di panti, membuat Zaman harus menelusuri teka-teki kehidupan Sri Ningsih. Tanpa banyak petunjuk, hanya sebuah buku harian 10 lembar yang mengantar Zaman menuju pencarian panjang penuh teka-teki. Bagian pertama buku harian adalah tentang kesabaran (1946-1960). Bagian yang menggiring Zaman menelisik masa kecil Sri di Pulau Bungin, Sumbawa Besar. Masa kecil miris yang berakhir dengan gelar Sri yatim piatu, anak yang dikutuk. Pada bagian ini, kesabaran Sri kecil habis-habisan diuji untuk menunaikan amanat ayahnya. Yaitu menjaga adik dan ibu tirinya.  Sebuah bagian kehidupan yang membuat Sri bertanya-tanya  apakah sabar itu ada batasnya? (hal.48)

Bagian kedua adalah tentang persahabatan, terjadi pada rentang tahun 1961-1966. Sepeninggal ibu tirinya, Sri dan adiknya, Tilamuta pergi ke Surakarta untuk bersekolah di Madrasah Kiai Ma’sum. Zaman pun bergegas mencari jejak Sri di Madrasah. Zaman menemukan bahwa Sri dan adiknya berhasil belajar di tempat itu. Bahkan, Sri mendapat dua teman baik layaknya saudara, persahabatan yang indah. Tidak hanya itu, ketiganya pun sama-sama menjadi guru setelah lulus. Sampai pada cerita yang menyedihkan. Karena kedengkian, salah satu dari teman Sri malah berbalik menyerang Madrasah. Bergabung dengan kelompok komunis, berniat menguasai Madrasah dan kekayaannya. Bahkan adik Sri, Tilamuta jadi korban kebiadaban itu. Harapan Zaman bisa menemukan adik Sri pupus sudah.

Tak tahan mengingat kengerian yang menimpa keluarga Kiai dan adiknya, Sri memutuskan pindah ke Jakarta. Memulai hidup baru, berusaha melupakan semuanya. Zaman pun segera terbang ke Jakarta untuk mencari sesuatu yang berhubungan dengan Sri. Mencari alamat di Jakarta berpuluh-puluh tahun lalu cukup susah. Beruntung Zaman bertemu seorang tukang ojek online yang membantunya mendapatkan informasi. Di Jakarta kala itu, Sri mencoba melakukan banyak hal. Mulai dari menjadi guru Sekolah Rakyat, berjualan nasi goreng, hingga membangun pabrik sabun. Kesulitan tidak henti-henti menghadang bisnisnya. Tapi bukan Sri Ningsih jika menyerah. Inilah bagian ketiga pada buku diary Sri. Tentang keteguhan hati (1967-1979). Sampai pada titik puncak kejayaan, sesuatu dari masa lalu kembali menghantui. Sri memutuskan meninggalkan semuanya dan pergi ke London.

Di London, Sri memulai bagian ke-4 diarynya. Yaitu bab tentang cinta (1980-1999). Setelah mengalami banyak  hal sulit di London, akhirnya Sri Ningsih menemukan seorang lelaki yang sangat mencintainya. Tak lama kemudian, hubungan mereka diresmikan ke tahap pernikahan. Sayangnya, badai derita kembali datang merenggut semuanya. Diakhir kisahnya, sang lelaki berkata,

“aku tidak akan menangis sedih karena semuanya berakhir, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi” (hal.412)

Sri harus sendiri lagi. Sayangnya, di saat hati Sri masih belum sepenuhnya tentram, hantu dari masa lalu datang lagi menghantam dirinya. Sri memutuskan berlari lagi. Zaman yang cerdas, segera bisa menganalisis jenis hantu masa lalu yang dihadapi Sri bertahun-tahun itu. Hantu yang membuat Sri harus menyelubungi dirinya dari semua orang.

Masuk pada bagian terakhir buku diary Sri, tentang memeluk rasa sakit. Adalah bagian di mana tokoh Sri telah memperoleh pemahaman yang baik tentang makna dari keseluruhan perjalanan hidupnya. Sri memutuskan untuk tetap tidak membenci siapapun yang melukainya. Termasuk masa lalu yang selalu mengejar, menghantuinya. Sri hanya menghindar, tidak ingin balik menyakiti hingga maut menjemputnya.

Zaman yang sudah tahu tentang masa lalu yang selama ini dihindari Sri, tiba-tiba dihadapkan dengan hantu masa lalu itu. Tidak ada pilihan lain bagi Zaman selain menghadapinya. Kebenaran harus tetap ditegakkan walau nyawa taruhannya.

“Aku bahkan bersedia memilih mati dengan empat orang jahat itu demi menegakkan kebenaran, ungkap Zaman.(hal 512). Amanah Sri Ningsih berhasil ditunaikan.

Kelebihan isi novel ini adalah pada perjalanan pencarian yang sarat teka-teki. Penemuan fakta-fakta yang mengejutkan, membuat pembaca menumpahkan perasaannya. Selain itu, penulis banyak menekankan pelajaran berharga tentang kehidupan. Diantaranya tentang kesabaran yang tidak pernah ada batasnya. Tentang rasa dengki dan penghianatan akan membunuh diri sendiri, pun orang-orang tidak bersalah. Ada juga pelajaran mencintai, bahwa mencintai orang lain akan menumbuhkan keberanian. Sedangkan dicintai orang lain, akan memberikan kekuatan.

Secara penulisan, berbeda dari 25 buku sebelumnya, novel Tentang Kamu memiliki setting luar negeri. Ditambah lagi, adanya dialek lokal yang membuatnya terlihat lebih segar dari novel–novel karya Tere Liye sebelumnya.  Namun, ada hal-hal yang masih membuat penasaran terkait tokoh Zaman yang tidak dijelaskan pada novel. Misalnya, bagaimana Zaman sampai kuliah di luar negeri. Apa motivasinya mengambil jurusan hukum karena sikap keluarga dari pihak ayahnya?.  Meski begitu, hal tersebut tidak banyak mengurangi keindahan cerita di dalam novel. Dan pada akhirnya, novel  ini  wajib  dibaca oleh semua orang yang ingin menjadi lebih baik ke depannya.

 

 

 

Tulisan ini diikutkan dalam lomba resensi buku yang diadakan Penerbit Republika. Periode lomba 7-31 Desember.

Fakta Tentang Patah Hati, Move On, dan Cinta dalam Buku Koala Kumal      

                                      

1844b82702bb919c389577da68798655

Cover Buku Koala Kumal (Dok. img.bukabuku.net)

                Buku Koala Kumal adalah buku ketujuh dari Bang Raditya Dika. Buku ini berisi bab-bab patah hati yang nyata dialami bang Radit dalam kehidupannya. Tidak hanya patah hati pada cinta, tapi juga patah hati akibat retaknya persahabatan. Berikut beberapa kalimat fakta mengenai patah hati, move on, dan cinta dalam buku ini.

Layangan hijau yang putus itu melayang lemah tanpa arah, seperti abege yang gagal move on (hal.5).

Orang yang lagi kasmaran memang cenderung melakukan hal di luar kebiasaannya, demi cinta yang dia kejar (hal. 53)

“… ketika sedang patah hati, kita akan makan banyak biar ngerasa gak sedih-sedih amat. Gue jadi sering nangis, ingusan, meratapi apa yang salah. Gara-gara putus cinta, sekarang gue jadi cowok cengeng yang buncit.” (hal. 66)

“… apa yang dilakukan cowok pada umumnya: cepat ganti hati kalau ada yang baru. Gampang berpaling” (hal. 68)

“Cewek emang gak tahan untuk selalu berkomunikasi dengan cowok yang dia suka” (hal. 72)

Semua orang tahu pertemuan dengan mantan pacar sangat berpotensi menghasilkan galau (hal. 79)

Kalau lo gak mau dikerjain jangan ngerjain orang. Kalau gak pengin dimarahin jangan pernah marahin orang. hal. 184)

“Semua orang pasti pernah patah hati ….. Dan itu lebih menyakitkan dari jurit malam mana pun yang pernah kita lewatin” (hal. 184)

“… untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue ngerasa yang namanya berjuang untuk cinta. Perjuangan itu sendiri juga ngebuat gue lebih baik. Cinta itu ternyata faktor motivasi yang mujarab” (hal. 200)

Semenjak kami putus dan gue melihat foto itu kembali, gue kayak ngelihat dua orang yang sudah mati. Hubungan yang sudah mati (hal. 204)

Gue trauma sama pacaran. Gue gak mau ngerasain kehilangan seperti yang gue rasakan dulu. (hal. 207)

Cara dia ngelihat cinta akan berbeda semenjak patah hati itu. (hal. 207)

Semua orang di sini pasti pernah patah hati, dan patah hati mereka mengubah cara pandang mereka selama-lamanya. Kadang perubahannya gak terlalu dahsyat, kayak misalnya mereka jadi gak gampang percaya sama orang. Tapi yang jelas: mereka berubah (hal. 207)

Kita akan selama-lamanya jadi orang yang lain, gara-gara satu patah hati kampret dalam hidup kita (hal. 208)

Esensi sebuah hubungan adalah dengan adanya keberadaan orang yang kita sayang di samping kita (hal. 220)

Tidak semua yang tidak bisa dilihat bisa membuat kita celaka (hal. 224)

Airport  seperti sesuatu yang melambangkan sedih karena harus berpisah, sekaligus kebahagiaan bertemu kembali dengan orang-orang yang mereka tinggalkan sebelumnya (hal. 226)

Gue gak bertanya kenapa gue gak dapat undangan. Karena gue tahu persis kenapa. Mengundang mantan pacar ke pernikahan kita memang tidak dianjurkan: nanti calon suaminya gak enak, luka lama bisa terbuka kembali, gue bisa nangis kejer di dalam kamar mandi. (hal. 231)

Kenapa dia harus menikah dengan orang yang menjadi selingkuhannya dulu gue gak paham. Kenapa gue masih merasa getir sampai sekarang, juga gue gak paham. (hal. 231)

Kalau udah galau kalian memuncak, coba baca artikel 7 Tips Mengemas Galau dengan Elegan Berikut Ini.

“… Lalu lewat satu pesawat besar, bunyinya bising memecah langit malam itu. Suaranya seperti patah hati yang terhebat” (hal. 231)

“… Tapi kenyataannya, banyak orang yang sehabis patah hati malah jadi tambah galau. Mukanya tambah bengkok, bibirnya manyun ke dalam, matanya tambah bengkak. Orang-orang kayak gini setiap mendung datang nempelin muka ke jendela sambil terisak bilang, ‘Kenapa kamu jahat’? (hal. 236)

“Gue bakal sukses. Gue  bakalan belajar keras, gue bakal masuk universitas bagus, dan gue bakal punya pekerjaan yang hebat. Gue bakal ngebuat semua cewek yang dulu nolak gue jadi menyesal” (hal. 237)

“Untuk orang dari negara manapun, patah hati pasti gak enak” (hal. 239)

Beberapa luka bisa sembuh dengan baik seiring berjalannya waktu (hal. 242)

Patah hati yang gue alami akibat apa yang dulu dia lakukan membuat dia berbeda di mata gue (hal. 246)

“Aku juga udah beda. Dan aku yang sekarang, enggak mau dengan kamu yang sekarang ?(hal. 246)

‘“…, kamu tahu istilah untuk orang yang pernah merasakan patah hati? ‘Dewasa’

Jika ingin membaca fakta lengkap tentang patah hati, move on, dan cinta dalam buku ini. Silahkan membaca sendiri buku lengkapnya. Dijamin keren.

Salam membaca. Semoga pemahaman baik segera tumbuh.

Baca artikel lainnya :

Resensi Buku Pulang Karya Tere Liye

Resensi Buku Kubah di Atas Pasir

Quotes Menyentuh Buku Kubah di Atas Pasir

 

Resensi Buku Pulang Karya Tere Liye (Koran Jakarta, 7 Desember 2015)

Judul Resensi:

Lika-Liku Perjalanan Hidup “Anak Pedalaman” Bukit Barisan

Judul : Pulang

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika

Editor : Triana Rahmawati

Tahun Terbit :  September, 2015

Jumlah Halaman : iv + 400

Peresensi : Siti Nuraini, SM3T IV LPTK Universitas Negeri Malang ; Alumnus Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang.

Novel ini bercerita tentang lika-liku perjalanan hidup seorang anak manusia, Menjalani kehidupan dengan warisan berharga dari kedua orang tua.  Yaitu nasehat-nasehat religius dari ibunya, yang padanya ia selalu setia berpegang. Dan darah jagal yang ditakuti, dari ayahnya. Berubah dari seorang anak Mamak yang amat dikhawatirkan. Menjadi seorang perantau yang  tak kunjung pulang. Hingga suatu saat, ia harus pulang menggenapi kerinduannya.

Dialah Bujang, putra semata wayang Midah dan Samad. Hidup di Bukit Barisan, daerah sekitar hutan pedalaman Sumatera. Mamaknya, adalah satu-satunya sekolah dan sumber ilmu bagi Bujang. Membaca, berhitung, dan ilmu agama ia dapat dari mamaknya. Hidup Bujang tidak berbeda dengan anak-anak Bukit Barisan. Cerita menjadi jauh berubah saat ia bertemu Tauke Muda. Teman sekaligus saudara angkat bapaknya yang datang untuk berburu babi hutan. Dari Tauke, Bujang baru mengetahui bahwa bapaknya  adalah mantan tukang pukul yang disegani.

                Bujang pun dilibatkan dalam rombongan perburuan. Dan terbukti darah jagal mengalir deras di tubuhnya. Di usia yang masih 15 tahun, ia sempurna menaklukkan babi hutan raksasa dan menyelamatkan nyawa rombongan. Sejak hari itu, tidak ada ketakutan sedikitpun dalam dirinya. Orang-orang pun menjuluki Bujang ‘Si Babi Hutan’. Setelah itu, Bujang dibawa Tauke Muda menuju kota. Mamak melepasnya dengan nasehat yang selalu diingat Bujang. Agar nanti, Bujang tidak pernah memasukkan makanan haram ke dalam perutnya. Bujang memulai hidup baru dengan menjadi bagian keluarga Tong. Keluarga penguasa shadow economy.

Di kota, Bujang diajari berburu, menembak, berkelahi, belajar menjadi ninja bahkan di sekolahkan hingga perguruan tinggi. Dengan semua keahlian yang dimiliki dan ketiadaan rasa takut, Bujang menjadi bagian penting dalam bisnis keluarga Tong. Ini dibuktikan Bujang dengan menyelesaikan konflik hebat dengan keluarga Lin. Saat alat pemindai kesehatan dicuri keluarga Lin, Bujang dan tim terbaik keluarga Tong berhasil merebut alat itu kembali. Posisinya dalam keluarga Tong, membuat Bujang sulit untuk sekedar pulang menjenguk Mamak dan bapaknya.

Permasalahan hidup mulai muncul ketika kedua orang tuanya meninggal. Sejak itu, Bujang mulai menemukan tembok penghalang rasa takut dalam dirinya runtuh. Di susul penghianatan Basyir, rekan kerjanya di keluarga Tong. Basyir bersekongkol dengan keluarga Lin untuk mengambil alih kendali bisnis keluarga Tong. Dan puncaknya, kematian Tauke Muda  telak membuat Bujang terpukul hebat. Kebencian dan rasa sakit membuatnya terkungkung dalam rasa takut. Bujang merasakan kehilangan setelah sesuatu itu benar-benar pergi, tidak akan kembali lagi (halaman 241).

Tuanku Imam, kakak dari Mamak Bujang berhasil menyelamatkannya. Saat itu, kondisi Bujang pingsan kehabisan tenaga. Karena berlari menggendong Tauke Muda sesaat sebelum tuannya itu meninggal. Melihat kondisi bujang yang berputus asa, Tuanku Imam merasa harus menyadarkan keponakannya. Ia mengajak Bujang berkeliling di sekolah agama dan sejenak berhenti di dekat puncak masjid. Berdua memandang matahari terbit. “Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab baru bersama matahari terbit (halaman 345). Continue reading

Quotes  Menyentuh dalam Buku Kubah di Atas Pasir

 

                Buku Kubah di Atas Pasir  karya Zhaenal Fanani adalah novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Jika kita sudah membaca, maka akan tidak asing dengan  kalimat-kalimat menyentuh dalam buku ini. Bagi yang belum membaca buku ini, silahkan baca review lengkapnya di sini. Dan di bawah ini beberapa kalimat menyentuh dalam buku KDAP :

Kehidupan adalah episode perjalanan. Dan manusia hanyalah pion-pion kecil yang dituntun oleh “tangan” Sang Khalik untuk melewatinya (hal. 19)

Aku hanya memiliki satu cinta. Jika kamu menerimanya, aku tidak punya cinta lain (hal. 49).

“… waktu berjalan tertatih-tatih dan setiap detaknya adalah tusukan-tusukan yang menyakitkan (hal. 121).

“… seperti janjiku padamu, aku akan menjaga cinta kita. Kita hanya punya satu cinta dan tak akan membaginya dengan yang lain. …, bantulah aku agar dapat menjaga cinta ini hingga kelak kita dipertemukan kembali di kehidupan yang lebih abadi (hal. 235)

“… bahwa ilmu dapat mengantar seseorang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan menuntun seseorang menjelajahi dunia-dunia baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya (hal. 287)

Cinta bukan saja penyatuan, melainkan juga khazanah yang mengajarkan keikhlasan, pengabdian, perjuangan, dan pengorbanan. Jika segala hal dilandasi cinta, kedamaian dan kebahagiaan akan hadir (hal. 295)

Emak adalah bentuk sempurna sebuah cinta (hal. 295)

Cinta sesungguhnya ialah ketika kita bisa bersabar menyingkirkan cinta jika berhadapan dengan batasan-batasan yang ditentukan Allah (hal. 324)

Sebenarnya masih banyak kalimat menyentuh yang terdapat dalam buku ini. Akan lebih membuat terenyuh jika kita membaca sendiri dari bukunya.

Salam membaca. Semoga pemahaman baik segera tumbuh.

Baca Artikel Lainnya :

Review Buku Kubah Di Atas Pasir

Resensi Buku :Kubah Di Atas Pasir (Koran Jakarta, 28 November 2015)

foto koran jakarta

Capture Halaman Koran Jakarta

 

Judul : Kubah Di Atas Pasir

Penulis : Zhaenal Fanani

Penerbit : Metamind, Imprint Tiga Serangkai

Tahun Terbit : Juli 2015

Jumlah Halaman : 360

ISBN :978-602-72834-1-1

Peresensi : Siti Nuraini ; SM3T IV LPTK Univ. Negeri Malang ; Alumnus Univ. Muhammadiyah Malang

Buku yang mudah diterima oleh banyak orang  umumnya  buku yang menyajikan  kisah nyata tentang kehidupan. Karena kisah yang demikian, kerap kali terjadi di tengah-tengah masyarakat sehingga mudah dipahami. Begitulah buku  Kubah di Atas Pasir karya Zhaenal Fanani. Buku ini mengungkapkan kisah lengkap kehidupan yang didalamnya terdapat kisah cinta, pengabdian, kegigihan, dan perjuangan inspiratif untuk menghidupkan pendidikan.

Zhaenal Fanani adalah penulis kelahiran Malang yang mencoba mengangkat kisah nyata dari sebuah daerah di pedalaman Malang. Latar tempat kisah ini terjadi di Ngurawan, sebuah Desa yang penduduknya menggantungkan hidup dari penambangan pasir dan batu. Dan tokoh utama dalam buku ini adalah Fatikha. Perempuan yang sejak lahir hidup di yayasan di Kota Malang. Sejak kecil Fatikha ditelantarkan ayah bundanya. Hidupnya berubah membahagiakan sejak bertemu Mahali, buruh penambang pasir yang dulunya juga alumni yayasan yang sama. Dan episode kehidupan baru pun ia mulai sejak dinikahi Mahali dan menetap di Desa Ngurawan.

                Fatikha mempunyai kepedulian yang besar bagi pendidikan. Sehingga ia memilih mengajar di yayasan tempatnya belajar semasa kecil, tanpa bayaran sepeserpun. Ia tidak mengeluh meski harus bolak-balik dari Ngurawan menuju Kota Malang dengan menumpang truk pengangkut pasir (halaman 55). Tidak berhenti di situ, Fatikha juga menginginkan keberadaan lembaga pendidikan di Desa Ngurawan. Meski hal ini sia-sia karena warga dan instansi pemerintah tidak mendukung (halaman 58).

Awal perjuangan berat seorang Fatikha adalah ketika Mahali meninggal dunia. Tidak hanya meninggalkan Fatikha dan seorang anak, Mahali juga meninggalkan misteri kematian yang janggal. Kematian yang diwarnai kamuflase yang didalangi oleh warga dan oknum pemerintah desa. Namun Fatikha percaya bahwa suaminya tidak mungkin melakukan suatu kejahatan. Meski sempat terpukul, Fatikha berusaha bangkit kembali demi masa depan anaknya, Hiram.

Tanpa Mahali, Fatikha berubah menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ia bekerja menjadi buruh pemecah batu di sungai. Meski hidupnya semakin keras, ia tetap meluangkan waktu untuk mengajar di yayasan dengan membawa Hiram yang masih balita. Waktu berjalan dan luka hati Fatikha nyaris sembuh. Buah hatinya, Hiram menjadi murid yang membanggakan di sekolah. Dan jadilah Hiram satu-satunya anak Ngurawan yang bersekolah. Namun setelah selesai pendidikan menengah akhir, Hiram harus menjadi penambang pasir dan batu. Karena Fatikha tidak bisa membiayai pendidikannya di perguruan tinggi.

Sampai suatu ketika datanglah tiga gadis Rusia yang datang untuk meneliti lingkungan Ngurawan. Mereka adalah Eleina, Czarina, dan Katya. Untuk keperluan penelitian, Ngadrim selaku kepala desa Ngurawan menyuruh Hiram untuk membantu. Ternyata hasil penelitian menyatakan bahwa kondisi sungai tidak bisa lagi untuk dieksploitasi. Sehingga, harus sesegera mungkin ditutup. Melihat kenyataan itu, warga marah dan menolak menutup satu-satunya sumber penghasilan di Ngurawan. Mereka pun mengusir paksa tiga gadis Rusia. Padahal, hasil penelitian selengkapnya belum dijelaskan. Hiram yang dari awal diperintahkan untuk membantu penelitian pun berusaha menengahi persoalan.

 Di situlah sejarah berulang. Seperti ayahnya dulu, Hiram dituduh menjadi penghianat oleh warga. Hiram dan ibunya pun berusaha disingkirkan oleh warga. Namun Fatikha tidak mampu untuk meninggalkan Ngurawan dan cita-cita pendidikan yang belum tercapai. Sampai akhirnya Eleina yang ternyata juga anak dari kedutaan Rusia kembali ke Ngurawan. Eleina membawa mandat penutupan tambang bersama ayahnya. Sebagai gantinya, disediakan tanah garapan untuk warga yang bisa dikelola sampai 25 tahun. Tidak hanya itu, di Ngurawan akan didirikan sekolah, mushala. sekaligus tiang listrik. Bantuan ini dipelopori kedutaan Rusia untuk Indonesia bekerjasama dengan beberapa kementerian terkait (halaman 356).  Dan inilah yang menjadi awal dari kebangkitan pendidikan dan kemajuan di Desa Ngurawan.

Continue reading